Batik Alami of KOI

Batik Alami of KOI

Last update on Nov. 20, 2014.

www.BatikAlami.com

Indahnya Batik dengan Pengembangan Potensi Pewarnaan Alami

Siapa yang tak kenal batik? Ya, kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya itu kini kian naik pamornya. Apalagi sejak UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity), sejak 2 Oktober, 2009. 

Di Eropa, batik mulai dikenal sekitar tahun 1817, lewat terbitnya buku History of Java, karya Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Inggris yang pernah bertugas di Jawa, yang di dalamnya terdapat kisah tentang batik. Kemudian pada 1873, seorang saudagar menyumbangkan batik Jawa ke Museum Etnik di Rotterdam. 

Kini, teknik pembuatan batik pun kian mengagumkan, karena terus digalinya potensi pewarna alami. Selain lebih cantik, batik pun kini lebih ramah lingkungan dan aman bagi pemakainya.

Potensi Pewarna Alami

Sebelum tren pewarna alami kembali digali potensinya, pewarna sintetis merajai proses pewarnaan tekstil. Pewarna sintesis pertama yang dibuat oleh manusia adalah mauveine. Pewarna sintetik ini ditemukan oleh William Henry Perkin pada tahun 1856. Sejak itu, berbagai jenis pewarna sintetik berhasil disintesis.

Semula, batik sendiri dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Seiring perjalanan waktu, para pembuat batik terus menggali potensi alam untuk mempercantik batiknya, terutama dalam segi pewarnaan, dan meninggalkan pewarna sintesis. Zat Pewarna Alam (ZPA) untuk bahan tekstil pada umumnya diperoleh dari hasil ekstrak berbagai bagian tumbuhan seperti akar, kayu, daun, biji ataupun bunga. Perajin-perajin batik telah banyak mengenal tumbuhan-tumbuhan yang dapat mewarnai bahan tekstil, beberapa diantaranya adalah; daun pohon nila (indofera), kulit pohon soga tingi (ceriops candolleana arn), kayu tegeran (cudraina javanensis), kunyit (curcuma), teh (tea), akar mengkudu (morinda citrifelia), kulit soga jambal (pelthophorum ferruginum), kesumba (bixa orelana) dan daun jambu biji (psidium guajava).

Banyak faktor yang mendukung langkah ini. Antara lain aturan-aturan baru yang ditetapkan dalam lalu lintas perdagangan internasional, yang membuat perajin batik tidak boleh sembarangan menggunakan bahan kimia. Sebut saja surat CBI (Centre for the Promotion of Imports Developing Countries) ref CBI/HB-3032, tertanggal 13 Juni 1996, yang menegaskan mengenai pelarangan impor terhadap produk yang menggunakan bahan kimia tertentu, sebut saja diazonium salt, yang diperkirakan dapat merugikan kesehatan manusia.

Tak hanya itu, lembaga-lembaga yang aktif di ranah batik pun terus mengkampanyekan pentingnya penggunaan pewarna alami. Tengok apa yang dilakukan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan dan Batik (BBKB). Mereka melakukan workshop Batik Kria Tekstil dengan Zat Pewarna Alam (ZPA). Kegiatan yang digelar untuk memeriahkan Festival Batik Internasional Motif Yogyakarta II tahun 2002 tersebut memang  dirancang untuk membuka wacana masyarakat tentan ZPA.

Diungkapkan Hendri Suprapto, konsultan pewarna alam BBKB, awalnya banyak yang tidak percaya bahwa ZPA bisa digunakan untuk mewarnai batik. Namun, akhirnya publik paham bahwa ZPA memiliki warna yang menawan. Warna yang dihasilkan dari ZPA amat variatif, unik dan cenderung lembut. Intensitas warnanya juga bersahabat dengan mata. Hebatnya, ZPA juga mengandung anti oksidan, sehingga nyaman dan aman dipakai. Berbeda dengan zat warna sintetis, seperti napthol, direct dan rapid. Menurut CBI, susunan kimiawi pada zat-zat tersebut berpotensi tinggi mengakibatkan kanker.

Aneka Ragam Nabati

Keuntungan lain yang bisa diperoleh dari Zat Pewarna Alam (ZPA) adalah bahannya bisa diperoleh dari berbagai sumber, antara lain daun, bunga, akar, kulit akar, batang, kulit batang, buah, kulit buah, biji buah dan galih.

ZPA tersebut akan memberi warna pada produk tekstil apabila produk tersebut diolah dahulu dengan cara mordanting. Apa itu mordanting? Mordanting adalah memasukkan unsur logam ke dalam serat kain, sehingga unsur logam tersebut dapat bereaksi dengan pigmen warna yang ada pada tumbuhan. Pigmen-pigmen tersebut misalkan saja indigotin yang terdapat pada Indigofera Tinctoria, bixin yang terdapat pada Bixa Orellana, Brazilin pada Caesalpinia Sappan, dan Morin pada Cuddrania Javanensis.

Bisa dikatakan, berhasil atau tidaknya suatu proses pewarnaan tergantung dari proses mordanting. Itu sebabnya mordanting harus dilakukan secara hati-hati, akurat, dan tidak terlalu cepat, agar menghasilkan warna yang stabil.

Ramah Lingkungan

Penggunaan Zat pewarna Alam (ZPA) sebagai pewarna kain batik juga dapat mewujudkan rasa kepedulian terhadap alam. Limbah yang dihasilkan dari proses produksi batik berpewarna alam itu dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Selain itu, ketersediaan bahan baku yang mudah didapatkan di lingkungan sekitar juga mendukung bagi keberadaan batik alam tersebut.

Tumbuhan yang digunakan sebagai zat pewarna juga dapat ditanam kembali dengan mudah, sekaligus dapat menghijaukan alam. Air bekas celupan kain batik pun aman digunakan untuk menyiram tanaman karena tidak mengandung bahan kimia. Bahkan, ampas tumbuhan pewarna itu juga dapat digunakan sebagai media untuk berkebun.


Comments are closed

Upcoming Events
19
Dec